Tampilkan postingan dengan label muthiakarima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muthiakarima. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Mei 2014

Yogyakarta di suatu pagi.


Minggu, 25 Mei 2014

Hari ini masih di Yogyakarta, dengan suasana pagi yang teduh sisa euforia menonton payung teduh semalam.
Hari ini juga harus kembali ke purwokerto, tapi sebelum pulang aku ingin bertemu seorang kawan SMA, namanya Hesty.
Kami bertemu dan mencari sarapan berdua, kemudian mencari buku di emperan toko samping Taman Pintar tapi sayang, masih banyak toko yang belum buka dan akhirnya aku meminta kepada Hesty untuk mengajaku jalan-jalan. Sesungguhnya aku ingin ke Gunung Api Purba yang katanya tempatnya yoi bangeet (coba aja googling kalo gak percaya), tapi Hesty belum pernah kesana, akhirnya dia mengajakku pergi ke Candi Ijo di daerah Sleman daerah selatannya candi Ratu Boko.

Terletak di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman. Perjalanan menuju Candi Ijo dapat dengan mudah dilakukan dengan alat transportasi seperti mobil dan motor, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat kota Yogyakarta. Banyaknya plang petunjuk jalan yang juga membuat wisatawan tidak bingung untuk sampai ke Candi Ijo, namun akses jalan yang lumayan curam 5km sebelum candi ijo membuat kita harus berhati-hati.

Untuk memasuki Candi Ijo, kita hanya diwajibkan mengisi semacam buku daftar wisatawan, karena menurut Hesty beberapa bulan yang lalu pemerintah Yogya mulai membebaskan biaya masuk ke candi-candi kecil salah satunya Candi Ijo ini. Cocok nih buat tempat pikniknya mahasiswa !

Candi Ijo ini merupakan salah satu candi tertinggi di Yogya, buktinya kita bisa melihat landasan udara Adisucipto. Pemandang disekeliling candi juga yoi banget lhoo, kita bisa ngeliat perumahan daerah Sleman dan sekitarnya, apalagi kalo kalian kesini waktu sunset behhh syahdu banget pasti !


jadi di Kompleks Candi Ijo ini ada beberapa candi.



berlatar belakang daerah Sleman dari kejauhan.


di kompleks Candi Ijo ini ada juga candi yang berupa reruntuhannya aja lho



Jalan Keluar ?



reruntuhan candi.








Ini untuk kamu yang selalu tangguh menghadapi segala cobaan hidup, seperti candi yang selalu berdiri meskipun badai dan abu kelud datang menghampiri #eaaaaa 






Terimakasih kawan Hesty :)
Purwokerto, 26 Mei 2014
Salam :)

Minggu, 25 Mei 2014

Biru


Tadi pagi disini, ngeliatin mereka. Aku langsung inget sama cover Soundcloudnya Banda Neira, langsung deh pasangan yang lagi berdiri di atas tangga keluar itu aku foto aja, sambil ngebayangin lagu ke entah berantahnya Banda Neira. Pokonya suatu hari nanti harus bisa ber-nelangsa riang secara langsung sama Banda Neira.






Purwokerto, 25 Mei 2014 
1 jam lebih banyak menit yang lalu tiba di PWT
Foto : di Candi Ijo - Yogyakarta
Terimakasih untuk kawan Hesty


Rabu, 21 Mei 2014

Hari Selasa rasa Minggu di Pulau Nusakambangan


Mentari masih malu-malu untuk naik ke peraduan saat kami, saya dan 16 anak Refleksi bersiap untuk melakukan perjalanan pagi itu. Sebuah kegiatan Hunting Besar yang merupakan salah satu program kerja ukm saya, akhirnya terselenggarakan juga setelah sebelumnya mengalami banyak pertimbangan untuk melaksanakannya.

Jadwalnya sih jam 6 pagi kumpul di sekre dan 6.30 kami sudah dalam perjalanan menuju Cilacap, tapi ya namanya juga manusia, banyak yang harus dipersiapkan, ada yang ijin makan dulu, beli bensin dan sebagainya. Suasana kampus Fisip sudah mulai ramai, akhirnya 7.30 kami berangkat menggunakan sepeda motor. Ngeeeeeng......

Disambut oleh sepoi angin pantai dan panas terik matahari, akhirnya setelah dua jam perjalanan kami memasuki kawasan pantai pasir putih, jadi tambah gak sabar untuk menaiki perahu dan menyebrang ke Pulau Nusakambangan.

Setelah melakukan istirahat beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan menaiki perahu untuk menyebrang pulau. Dengan proses tawar menawar akhirnya kami mendapatkan harga Rp. 15.000 per orang sudah termasuk harga tiket untuk masuk pulau Nusakambangan.


Oh iya, dalam perjalanan di atas kapal saya melihat da pelangi api diatas awan yang menaungi kami, tapi berhubung salah tekhnik waktu motret jadi gak begitu keliatan deh :(



Kapal kandas - kata bapak nelayan, kapal besar itu sudah kandas jadi harus dibantu oleh kapal-kapal kecil untuk mendorongnya supaya ketepian.


Sampai di Pulau Nusakambangan, mari berjalan kaki sedikit lebih jauh lagi........hup hup hup !


Salah satu bukti sejarah peninggalan Portugis yang masih berdiri kokoh di Pantai Karangbolong.


Sayangnya tangan-tangan jahat sudah mengotori peninggalan sejarah yang seharusnya kita jaga dan rawat baik-baik ini.



 Selesai melihat-lihat beberapa ruangan di Benteng Karangbolong kami melanjutkan perjalanan untuk menuju pantai, yeayyy akhirnya mendengarkan suara ombak dan bermain pasir lagi.

Pantai Karangbolong - Nusakambangan Timur.



*******************************************

Puas sudah mengabadikan segala apa yang ada di Pulau Nusakambangan, kami kembali lagi ke Pulau Jawa (wess kek nyebrang kemana aja) untuk melanjutkan perjalanan menuju destinasi terakhir kami.

Merupakan satu obyek wisata yang letaknya tak jauh dari tempat penyebrangan perahu ke Nusakambangan, tempat ini juga merupakan bukti sejarah peninggalan Belanda pada masa penjajahan. hayooo siapa tahu nama tempatnya ? Yap. Benteng Pendem yang dalam bahasa Belanda artinya Kustbatterij op de Landtong te Cilacap, benteng ini dibangun udah lamaa banget dari tahun 1861. Untuk yang pingin tahu gimana sejarah benteng pendem buka aja web tentang benteng ini yaaa :) hee





Nah kalo ini pintu masuk ruangan klinik yang digunakan pada masa penjajahan,

kalau ini salah satu pintu benteng, jadi dulunya tuh Benteng Pendem berhadapan langsung sama lautan lepas. Bisa liat garis garis yang ada di tembok itu nggak ? itu tempat para prajurit melakukan pengamanan dengan bersiap untuk menembaki musuh.


Dan yak, saya terkejut menemukan dua binatang ini, rusa ganteng dan rusa betina yang cantik, mereka hidup dan mencari makan dengan bebasnya di dalam kawasan Benteng Pendem ini.

Beberapa kawan dari calon anggota yang sedang beraksi memotret apa yang mereka lihat.

Salah satu bangunan di kawasan Benteng Pendem





Selesai sudah perjalanan Selasa rasa Minggu kami. satu foto narsis rama-ramai gak dosa kan ya buat penutup di postingan ini.hehehe



Salam :)






Sabtu, 17 Mei 2014

Hei Walter Mitty



The Secret Life of Walter Mitty, yup sebuah film yang akan saya bahas sedikit pada postingan kali ini.
Apa pendapat kalian ketika melihat poster film di atas ? pasti kawan-kawan mengira film ini berkisah tentang seseorang yang bekerja dikantoran, atau kehidupan lelaki paruh baya.

Film yang direkomendasikan oleh kawan saya ini ternyata bercerita tentang seorang pegawai majalah LIFE yang bernama Walter Mitty, dimana awalnya dia selalu direndahkan dan dipandang sebelah mata karena Mitty selalu memiliki imajinasi yang lebih ketika dia berbincang dengan seseorang. Orang lain hanya melihat dia bengong dan tidak mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Sampai akhirnya seorang fotografer Sean O'Connell mengirimkan satu rol film yang didalamnya terdapat foto terbaik dan Sean mengharapkan agar foto itu menjadi cover intisari majalah LIFE. 

Masalah muncul ketika negative foto urutan nomor 25 tidak ada dalam rol film, Mitty yang menjabat sebagai manager aset negative foto harus bertanggung jawab menemukan foto tersebut. Dalam rol film yang diberikan oleh Sean hanya terdapat tiga foto dan sama sekali tidak berkaitan yang satu dengan yang lainnya. Mengingat Sean O'Connell adalah fotografer yang selalu melanglang buana, mitty merasa kesulitan untuk mendapatkan petunjuk akhirnya dia hanya mengandalkan tiga foto yang terdapat dalam rol film yang diberikan Sean untuk mencari tahu dimana foto itu berada.

Dengan waktu hanya dua minggu sampai majalah LIFE dicetak, akhirnya Mitty memberanikan diri untuk mencari Sean. Melakukan perjalanan ke Greendland, menaiki helikopter dengan pilot yang sedang mabuk, terjun bebas ke lautan untuk menumpang sebuah kapal pengiriman barang, menyusuri gunung dengan menggunakan skateboard, melewati daerah Afghanistan yang tak bereperintahan, sampai mendaki pegunungan Himalaya harus dilakukan oleh Mitty. Ah pokoknya film ini keren, cerita tentang film ini sampai disini aja dulu, untuk kalian yang penasaran, tonton langsung aja yaa filmnya :))





Salam :)    



Jumat, 16 Mei 2014

Seratus Lampion di langit Gunung Srandil, Cilacap.





Tepat satu hari yang lalu, tanggal 15 Mei 2014 merupakan hari raya umat Budha. Ya, perayaan hari suci yang selalu dirayakan berpusat di candi Borobudur ini pasti ramai didatangi oleh orang-orang yang akan berdoa maupun oknum-oknum yang akan mengabadikan jalannya perayaan waisak.

Melihat postingan beberapa hari yang lalu tentang lampion, beberapa kawan saya menanyakan kenapa saya tidak melanjutkan misi lagi untuk melihat lampion di Borobudur ? Bagi saya melihat lampion pada pertengahan April kemarin sudah merupakan keberhasilan dari misi saya untuk melihat lampion, meskipun jumlahnya tidak sebanyak yang saya harapkan. 

Namun, malam ini sebuah ketidak sengajaan terjadi. Ketika saya bbm mas Fikri untuk menanyakan sebuah tempat, tiba-tiba dia menginformasikan bahwa malam ini akan ada pawai 1000 obor dan penerbangan 100 lampion di Gunung Srandil, Desa Glempang Pasir, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Hemmm, saya kemudian tertarik untuk berangkat ke Cilacap, tapi sayangnya setelah saya mengajak kawan-kawan di UKM Refleksi tidak ada satupun yang mau berangkat. Beberapa menit kemudian Mas Fikri menawarkan saya untuk ikut, langsung saja saya iya-kan. 

Setelah ba'da maghrib, saya, mas Fikri dan mba Dian berangkat menuju Srandil. Tempatnya agak jauh yaitu 30 Km dari pusat kota Cilacap kearah timur laut.

Menurut informasi, kegiatan perayaan waisak yang baru diadakan tahun ini dengan menggunakan pawai obor dan penerbangan lampion. Kagiatan yang lain juga sudah mulai dilaukan sejak kemarin (14/5), seperti diadakannya kerja bakti dan doa-doa yang dipanjatkan oleh umat Budha. Untuk malam ini pawai obor yang diikuti juga oleh umat Budha dari beberapa daerah disekitar Cilacap, Banyumas, Solo bahkan ada yang datang dari Lampung. 

Pelaksanaan pawai 1000 obor dimulai dari Vihara Agung Shang Yang Jati yang terletak di Hutan Gunung Selok di Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Jarak yang ditempuh untuk sampai ke Vihara di Desa Srandil cukup jauh, yaitu sekitar 5 kilo meter. Setelah puluhan orang pembawa obor memasuki vihara Tri Ratna, kemudian langsung dilanjutkan pelepasan lampion sebagai bentuk dipanjatkannya doa-doa, selain itu diadakan pula pagelaran wayang kulit.




Para umat Budha melakukan perjalanan membawa obor dengan berjalan kaki.





Lampion siap diterbangkan.





Pada sebuah lampion mereka menitipkan harapan....





Salam :)    

Jumat, 09 Mei 2014

Lampion



Tepatnya 11 Januari 2014, sekitar empat bulan yang lalu. Saya iseng-iseng ngegambar belasan lampion meski lebih mirip gambar persegi bikinan anak umur lima tahun. yah maklumin ajalah.

Sesungguhnya ini gambar ini bukan terispirasi dari sinetron jaman saya kecil. Inget gak ? dulu ada sinetron yang tokohnya punya pensil ajaib, terus apa yang dia gambar di kertas pasti berubah jadi wujud yang nyata.

Sebenarnya ini hasil dari kekesalan saya, hahaha kesel mulu rim  bisa dibaca mungkin di caption foto hasil capture diatas, sudah 2 kali di tahun 2013 saya sengaja mengikuti kegiatan kebudayaan yang dalam rangkaian acaranya ada penerbangan lampion, iya saya niat banget untuk ikut dan berharap bisa melihat lampion-lampion terbang secara langsung.

Tapi yaa mungkin Allah sudah berkehendak lain. Upacara waisak 2013 kemarin, ketika malam pelepasan lampion malah turun hujan sampai berjam-jam lamanya, akhirnya saya dan kawan-kawan memutuskan untuk pulang langsung ke Purwokerto, eh malam setelahnya saya buka twitter milik official waisak ternyata pelepasan lampion baru diselenggarakan malam itu, dan ada banyak foto lampion-lampion terbang di langit Borobudur. :"

Sewaktu Dieng Culture Festival (DCF) V juga sama, saya baru dikasih tau sesampainya di Dieng sih kalo ada acara penerbangan lampion, yes akhirnyaa tapi sampai malam hari saya bertanya kebeberapa panitia DCF tentang acara pelepasan lampion dan tidak ada yang tau pasti, maklum tempat pelepasan lampion di candi arjuna dan saya ada di Museum Dieng. Setelah saya menunggu-nunggu, akhirnya saya putuskan untuk melihat pemutaran film dokumenter yang kebetulan dilombakan juga dalam DCF, disaat sedang asik-asiknya menonton film, saya dapet sms dari mas fikri "kamu tadi motret lampionnya gak ?". wussss dengan jurus seribu langkah langsung saya keluar dari gedung pemutaran film dan tersisa 2 lampion yang masih terbang di langit. sedih.

Sampai akhirnya pertengahan April 2014, alhamdulillah doa saya dikabulkan oleh Allah, dalam pembukaan pekan komunikasi UI 2014 sebagai bentuk peresmian dibukanya kegiatan ini, kami seluruh peserta dan panitia Pekan Komunikasi beramai-ramai menerbangkan lampion berwarna-warni. Sungguh saya hanya bisa senyam-senyum melihat satu persatu lampion-lampion itu terbang tinggi, cuman bisa motret dan gak sempet ikut megangin sampai lampionnya terbang. Ada harapan sih bisa dikasih kesempatan lagi buat ngeliat ribuan lampion di negara Thailand sana :)


Mari menggambar impian kita masing-masing, untuk selanjutnya terus berusaha dan berdoa agar gambar impian kita bisa mempunyai warna yang sesungguhnya setelah kita membuat impian kita menjadi nyata :)

Salam :)

Rabu, 07 Mei 2014

Pesepeda Tua di Kota Satria


Kring... Kring
Kring... Kring

suara dering bel sepeda memecah kesunyian minggu pagi kota satria, hiruk pikuk kegiatan manusia seakan bertambah ramai dengan datangnya pemakai sepeda tua dari pejuru Indonesia.
Sebuah kegiatan yang diadakan untuk memeriahkan hari jadi Kota Purwokerto ke-432 ini berjudul Parade Onthel Satria-2.

Gor Satria seakan membuat kita berada di tahun 1945. Bukan dalam keadaan serba ngeri dimana banyak peperangan tapi suasana masyarakat yang ramah dimana kebanyakan dari mereka menggunakan sepeda untuk melakukan perjalanan ke berbagai tempat.

Menyenangkan sekali melihat sekitar 3000 onthelis yang datang dari seluruh daerah di Indonesia, mereka tidak hanya datang untuk memeriahkan Parade Onthel Satria saja, namun ada sebagian onhelis yang juga mengenakan berbagai macam kostum yang sangat menarik.

Mari kita lihat semenarik apa para penunggang sepeda tua :)


menaiki sepeda dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengayuhnya dengan cara berbalik, tapi bagi yang tidak memiliki keahlian seperti ini sebaiknya jangan ditiru yaa, bahaya !

pasukan Indian ini berasal dari Jombang lho, mereka niat betul kan merias wajah dan mengenakan kostum  lengkap dengan tutup kepala khas suku indian.



"Halo dab.... :)" dengan menggunakan sepeda juga dapat mempermudah kita untuk bertegur sapa dengan orang lain.

selain berseragam veteran ada pula yang berseragam sekolah dasar seperti ini :)



"mau kemana Jenderal ?"








 
Bukan, dia bukan suku dayak kesasar di Purwokerto, dia juga salah satu onthelis yang sering diajak foto karena ke-nyentrik-an penampilannya.


Nah gimana ? beraneka macam sekali bukan penampilan para onthelis yang meramaikan Parade Onthel Satria 2 ini. 

Sedikit quote untuk para pemuda dan pemudi dari Lik Paimo, pesepeda yang pernah membelah pegunungan Andes. 

"Bersepedalah sebelum sepeda ditataniagakan" - Lik Paimo. 


Salam :)






Senin, 05 Mei 2014

Sumpah serapah dipenghujung malam

Status Gunung Slamet kembali naik menjadi siaga 3, membuat berbagai media semakin sering memberitakan  aktivitas gunung setinggi 3.432 meter yang terletak di Jawa Tengah. Sesekali Gunung Slamet mengeluarkan asap tebal, beberapa kali gempa kecil, sampai letupan lava pijar hingga ketinggian 700 meter.

Aktivitas Gunung Slamet yang tak menentu tersebut membuat sebagian masyarakat yang tinggal di kaki gunung menjadi was-was. Berbagai kemungkinan mereka persiapkan, seperti kawan-kawan saya dari perantauan yang berkuliah di perguruan negeri di Purwokerto, ada beberapa dari mereka yang bahkan dipaksa untuk pulang kekampung halamannya untuk mencari aman apabila sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Jalur-jalur evakuasi untuk warga di lereng Gunung Slamet pun sudah disiapkan.

Namun berbeda dengan empat kawan saya. Ditengah kondisi siaga 3 Gunung Slamet, mereka dengan semangatnya mengabadikan aktivitas Gunung Slamet dari jarak sekitar 8-10km dari puncak. Saya pun diajak dengan iming-iming "rim ini peristiwa lima tahun sekali lho, moment yang langka rim", dan dengan penuh rasa cemas akhirnya saya memberanikan diri untuk ikut bersama mereka.

Sayangnya malam itu (4 mei 2014) Gunung Slamet tidak menunjukan aktivitas yang tidak biasa, hanya sesekali mengeluarkan asap hitam dan sedikit berwarna merah, tidak ada luapan lava. Hal tersebut membuat kawan saya menjadi kesal, ternyata saat itu ada fotografer lain yang juga ikut mengabadikan di tempat yang berbeda dan mendapatkan moment ketika lava sedikit meluap, mungkin itu diambil ketika kami masih berada dalam perjalanan menuju lokasi memotret.

Berbagai sumpah serapah diucapkan oleh ketiga kawan saya, "siapa tau bisa memancing kemarahan Gunung Slamet". Saya pun akhirnya merasakan bagaimana rasanya selama semalaman suntuk hanya mengamati Gunung dan harus siaga untuk menekan shutter kamera.

Syukurlah sampai akhirnya pukul 05.00 pagi aktivitas Gunung Slamet tidak terjadi letuasan. Doa baik masyarakat banyak mengalahkan niat jelek kawan-kawan saya.


sesekali asap hitam muncul dari puncak Gunung Slamet



penampakan Milky Way di langit Baturraden

Gunung Slamet pagi hari

Sindoro-Sumbing dibalik semburat cahaya langit pagi.




Salam :)

Rabu, 05 Februari 2014

Disatu hari yang cerah

tertanggal 5 November 2013, disatu hari yang cerah saya bersama kawan-kawan BELALANG berencana untuk hunting foto disuatu tempat yang ternyata kami harus memasuki hutan, melewati parit-parit sambil menggunakan motor. dan sampailah kami disebuah tempat yang dari tempat kami berdiri bisa melihat rumput-tumput yang hijau, sungai yang nun jauh disana.....

Jumat, 02 November 2012


Dieng, 17 Juli 2012
6.31 AM

penantian 30 menit yang sempat membuat putus asa, karena kabut tebal yang membuat kami tidak bisa melihat sunrise saat itu membuat kami ingin pulang kepenginapan saja.. sudah jauh-jauh jalan kaki, eh gak bisa liat sunrise.
tapi akhirnya pukul 6.31 AM kabut mulai turun, cahaya matahari mulai muncul, kehilangan moment sunrise pun tak masalah, yang penting masih bisa melihat hamparan awan sepanjang mata memandang, dekat sekali...