Tampilkan postingan dengan label 30HariMenulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 30HariMenulis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juni 2014

30

-------- achievement unlocked :) --------
 *gayajebraw* *lari-laridipadangsavanaLamboya,milihbangettempatnya,biarinaja*


30 hari selesai, kalo saya jadi anaknya ayah pidi pasti langsung dibikinin syukuran kayak si Timur yang berhasil nyelesei-in game Naruto, dan jadilah tulisan Naruto Bersyukur.he
30 hari selesai, dengan hutang tulisan yang sudah terlunasi dan tanpa mengeluarkan uang untuk denda, alhamdulillah.
30 hari selesai, iya selesai. terimakasih kepada para pembaca blog murimbaku baik disengaja maupun tidak sengaja mampir kemari dan mohon dimaafkan untuk tulisan yang masih amburadul ini.

Salam Sehat Sejahtera :))

Sabtu, 31 Mei 2014

Foto

"Padahal memotret hanya sesederhana apa yang ingin kau ceritakan melalui apa yang kau lihat lewat kamera. Teknis itu emang penting sih, tapi sekarang kan jamannya udah lebih maju, salah motret bisa dihapus gak kayak jaman dulu. Kalo udah gini bakalan susah buat berkembang." - IZ

Monohok bangeut kata-katanya, tapi emang sih sangat amat menyadarkan para kaum yang selalu dibikin ribet oleh diafragma, shutterspeed dan kawan-kawannya. jadi, obrolan sore yang sangat bermanfaat membuat penilaian baru mengenai memotret, bukan lagi tentang mengabadikan dan merekam, tapi sesungguhnya memotret adalah sebuah alasan, iya sesederhana itu.

Purwokerto, beberapa jam sebelum keberangkatan ke pulau Dewata.
Salam :)

Selasa, 20 Mei 2014

Jejak






........................ x ........................




 ke arah mana lagi kau akan melangkah?
mengikuti jejak orang kebanyakan ?
atau hanya berputar-putar tak tentu arah ?
hei tentukan sekarang !
jangan habiskan waktu yang kau punya !
masih banyak kertas kosong yang harus kau isi.
masih banyak memori yang harus kau penuhi.
jangan hanya terpaku, disini !
Lekas.... pergilah.









Purwokerto,  di pantai Teluk Penyu.
20 Mei 2014






Jumat, 16 Mei 2014

Seratus Lampion di langit Gunung Srandil, Cilacap.





Tepat satu hari yang lalu, tanggal 15 Mei 2014 merupakan hari raya umat Budha. Ya, perayaan hari suci yang selalu dirayakan berpusat di candi Borobudur ini pasti ramai didatangi oleh orang-orang yang akan berdoa maupun oknum-oknum yang akan mengabadikan jalannya perayaan waisak.

Melihat postingan beberapa hari yang lalu tentang lampion, beberapa kawan saya menanyakan kenapa saya tidak melanjutkan misi lagi untuk melihat lampion di Borobudur ? Bagi saya melihat lampion pada pertengahan April kemarin sudah merupakan keberhasilan dari misi saya untuk melihat lampion, meskipun jumlahnya tidak sebanyak yang saya harapkan. 

Namun, malam ini sebuah ketidak sengajaan terjadi. Ketika saya bbm mas Fikri untuk menanyakan sebuah tempat, tiba-tiba dia menginformasikan bahwa malam ini akan ada pawai 1000 obor dan penerbangan 100 lampion di Gunung Srandil, Desa Glempang Pasir, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Hemmm, saya kemudian tertarik untuk berangkat ke Cilacap, tapi sayangnya setelah saya mengajak kawan-kawan di UKM Refleksi tidak ada satupun yang mau berangkat. Beberapa menit kemudian Mas Fikri menawarkan saya untuk ikut, langsung saja saya iya-kan. 

Setelah ba'da maghrib, saya, mas Fikri dan mba Dian berangkat menuju Srandil. Tempatnya agak jauh yaitu 30 Km dari pusat kota Cilacap kearah timur laut.

Menurut informasi, kegiatan perayaan waisak yang baru diadakan tahun ini dengan menggunakan pawai obor dan penerbangan lampion. Kagiatan yang lain juga sudah mulai dilaukan sejak kemarin (14/5), seperti diadakannya kerja bakti dan doa-doa yang dipanjatkan oleh umat Budha. Untuk malam ini pawai obor yang diikuti juga oleh umat Budha dari beberapa daerah disekitar Cilacap, Banyumas, Solo bahkan ada yang datang dari Lampung. 

Pelaksanaan pawai 1000 obor dimulai dari Vihara Agung Shang Yang Jati yang terletak di Hutan Gunung Selok di Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Jarak yang ditempuh untuk sampai ke Vihara di Desa Srandil cukup jauh, yaitu sekitar 5 kilo meter. Setelah puluhan orang pembawa obor memasuki vihara Tri Ratna, kemudian langsung dilanjutkan pelepasan lampion sebagai bentuk dipanjatkannya doa-doa, selain itu diadakan pula pagelaran wayang kulit.




Para umat Budha melakukan perjalanan membawa obor dengan berjalan kaki.





Lampion siap diterbangkan.





Pada sebuah lampion mereka menitipkan harapan....





Salam :)    

Senin, 12 Mei 2014

Dandelion

namanya Dandelion, salah satu keluarga Asteraceae, bunga yang memiliki bunga-bunga kecil yang dengan rapuhnya dapat tertiup angin.
namanya Dandelion, siapa yang tahu jika bunga-bunga kecil yang berterbangan sebenarnya adalah buah-buah yang nantinya akan berjatuhan di tanah untuk kemudian tumbuh menjadi Dandelion-dandelion yang cantik.
namanya Dandelion, namun kawanku bilang ini bunga kapas tiup.



Purwokerto, 12 Mei. Di kamar kost dan sebuah tulisan yang belum selesai.

Minggu, 11 Mei 2014

Seperempat pertama


tak utuh, hanya sebelah.
kedudukanya terhadap matahari, 
membuat bulan harus melewati berbagai fase.
Untuk menuju purnama sampai kembali utuh.

Sabtu, 10 Mei 2014

Sampai ke terminasi di Ujung Negoro

Kota Pemalang memang sedikit tertinggal akan pembangunannya, tidak banyak tempat hiburan apalagi gedung Bioskop. Kami para pemuda yang haus akan film-film terbaru harus rela menempuh jarak satu jam ke kota tetangga untuk menikmati film-film anyar. Buktinya hari ini, saya sengaja mengajak adik saya Kamal untuk pergi menonton di Pekalongan, katanya sih bioskop disana lumayan bagus dan cukup update.

Dibawah terik siang matahari kami berdua berangkat menggunakan motor, melewat jalanan pantura yang selalu ramai akan kendaraan bermotor. Jadwal film yang akan kami tonton pukul 15.00 tapi sayang kami baru memasuki Wiradesa pukul 15.02 dan itu masih lumayan lama untuk samapai ke Borobudur Mall, belum lagi kam harus bertanya-tanya karena sesungguhnya kami berdua belum pernah nonton ditempat itu. 

Dari pada nonton film tapi gak full nceritanya akhirnya saya menawarkan opsi lain kepada Kamal,
"dek udah telat nih kalo mau nonton, ke Pantai Ujung Negoro yuk di Batang".
"ayo mbak, tapi aku gatau jalan Ke Batang ik." jawabnya
"ah gampang tanya orang."

*ting*, ingatan saya langsung tertuju pada kawan saya Nasir, kebetulan dia bertempat tinggal di Pekalongan. tidak ada 10 menit saya menghubungi dia lewat sms, langsung saja kami bertemu di depan Ramayana Pekalongan untuk melanjutkan perjalanan ke Ujung Negoro.

Namun sebelum berangkat kawan saya memastikan lagi bahwa tempat yang akan kami tuju betulan Pantai Ujung Negoro ? kata dia pantai ini cukup jauh tempatnya dari Kota Batang. Sudah sampai sejauh ini sayang kan kalau harus berbalik arah, langsung saja saya 'iya' kan kalau kami memang ingin ke pantai itu. 
dan taraaaa ternyata betul jauh sekali, sudah memasuki daerah alas roban.

Pantai Ujung Negoro ini memakan waktu sekitar 2 jam bila ditempuh dari Kota Pemalang dan letak pantai yang berada tidak jauh dari Jalur Pantura Jakarta-Semarang ini memudahkan wisatawan yang akan berkunjung, terletak di Jalan raya Tulis,Kecamatan Kandeman dengan jarak menuju lokasi sekitar 20 Km sebelah timur laut Kota Batang. 

gapura selamat datang Pantai Ujung negoro


Sesampainya di Pantai, saya dan Kamal diajak oleh Nasir untuk melihat air laut melalui jalur yang tidak biasa, yaitu menuruni tangga berundak yang cukup terjal.




deretan pepohonan masih rimbun di tepi Pantai Ujung Negoro

batu-batuan pun masih banyak di tepian pantai.

sisi lain pantai

nah ditemukan pula ubur-ubur, tapi sayang ubur-uburnya sudah mati.


Selain keindahan pantainya, Ujung Negoro juga terkadang ramai dikunjungi para peziarah.


matahari sudah mulai turun keperaduan, saya harus kembali pulang, sayang tidak bisa menikmati senja sore di Ujung Negoro.



Salam :)

Jumat, 09 Mei 2014

Lampion



Tepatnya 11 Januari 2014, sekitar empat bulan yang lalu. Saya iseng-iseng ngegambar belasan lampion meski lebih mirip gambar persegi bikinan anak umur lima tahun. yah maklumin ajalah.

Sesungguhnya ini gambar ini bukan terispirasi dari sinetron jaman saya kecil. Inget gak ? dulu ada sinetron yang tokohnya punya pensil ajaib, terus apa yang dia gambar di kertas pasti berubah jadi wujud yang nyata.

Sebenarnya ini hasil dari kekesalan saya, hahaha kesel mulu rim  bisa dibaca mungkin di caption foto hasil capture diatas, sudah 2 kali di tahun 2013 saya sengaja mengikuti kegiatan kebudayaan yang dalam rangkaian acaranya ada penerbangan lampion, iya saya niat banget untuk ikut dan berharap bisa melihat lampion-lampion terbang secara langsung.

Tapi yaa mungkin Allah sudah berkehendak lain. Upacara waisak 2013 kemarin, ketika malam pelepasan lampion malah turun hujan sampai berjam-jam lamanya, akhirnya saya dan kawan-kawan memutuskan untuk pulang langsung ke Purwokerto, eh malam setelahnya saya buka twitter milik official waisak ternyata pelepasan lampion baru diselenggarakan malam itu, dan ada banyak foto lampion-lampion terbang di langit Borobudur. :"

Sewaktu Dieng Culture Festival (DCF) V juga sama, saya baru dikasih tau sesampainya di Dieng sih kalo ada acara penerbangan lampion, yes akhirnyaa tapi sampai malam hari saya bertanya kebeberapa panitia DCF tentang acara pelepasan lampion dan tidak ada yang tau pasti, maklum tempat pelepasan lampion di candi arjuna dan saya ada di Museum Dieng. Setelah saya menunggu-nunggu, akhirnya saya putuskan untuk melihat pemutaran film dokumenter yang kebetulan dilombakan juga dalam DCF, disaat sedang asik-asiknya menonton film, saya dapet sms dari mas fikri "kamu tadi motret lampionnya gak ?". wussss dengan jurus seribu langkah langsung saya keluar dari gedung pemutaran film dan tersisa 2 lampion yang masih terbang di langit. sedih.

Sampai akhirnya pertengahan April 2014, alhamdulillah doa saya dikabulkan oleh Allah, dalam pembukaan pekan komunikasi UI 2014 sebagai bentuk peresmian dibukanya kegiatan ini, kami seluruh peserta dan panitia Pekan Komunikasi beramai-ramai menerbangkan lampion berwarna-warni. Sungguh saya hanya bisa senyam-senyum melihat satu persatu lampion-lampion itu terbang tinggi, cuman bisa motret dan gak sempet ikut megangin sampai lampionnya terbang. Ada harapan sih bisa dikasih kesempatan lagi buat ngeliat ribuan lampion di negara Thailand sana :)


Mari menggambar impian kita masing-masing, untuk selanjutnya terus berusaha dan berdoa agar gambar impian kita bisa mempunyai warna yang sesungguhnya setelah kita membuat impian kita menjadi nyata :)

Salam :)

Rabu, 07 Mei 2014

Pesepeda Tua di Kota Satria


Kring... Kring
Kring... Kring

suara dering bel sepeda memecah kesunyian minggu pagi kota satria, hiruk pikuk kegiatan manusia seakan bertambah ramai dengan datangnya pemakai sepeda tua dari pejuru Indonesia.
Sebuah kegiatan yang diadakan untuk memeriahkan hari jadi Kota Purwokerto ke-432 ini berjudul Parade Onthel Satria-2.

Gor Satria seakan membuat kita berada di tahun 1945. Bukan dalam keadaan serba ngeri dimana banyak peperangan tapi suasana masyarakat yang ramah dimana kebanyakan dari mereka menggunakan sepeda untuk melakukan perjalanan ke berbagai tempat.

Menyenangkan sekali melihat sekitar 3000 onthelis yang datang dari seluruh daerah di Indonesia, mereka tidak hanya datang untuk memeriahkan Parade Onthel Satria saja, namun ada sebagian onhelis yang juga mengenakan berbagai macam kostum yang sangat menarik.

Mari kita lihat semenarik apa para penunggang sepeda tua :)


menaiki sepeda dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengayuhnya dengan cara berbalik, tapi bagi yang tidak memiliki keahlian seperti ini sebaiknya jangan ditiru yaa, bahaya !

pasukan Indian ini berasal dari Jombang lho, mereka niat betul kan merias wajah dan mengenakan kostum  lengkap dengan tutup kepala khas suku indian.



"Halo dab.... :)" dengan menggunakan sepeda juga dapat mempermudah kita untuk bertegur sapa dengan orang lain.

selain berseragam veteran ada pula yang berseragam sekolah dasar seperti ini :)



"mau kemana Jenderal ?"








 
Bukan, dia bukan suku dayak kesasar di Purwokerto, dia juga salah satu onthelis yang sering diajak foto karena ke-nyentrik-an penampilannya.


Nah gimana ? beraneka macam sekali bukan penampilan para onthelis yang meramaikan Parade Onthel Satria 2 ini. 

Sedikit quote untuk para pemuda dan pemudi dari Lik Paimo, pesepeda yang pernah membelah pegunungan Andes. 

"Bersepedalah sebelum sepeda ditataniagakan" - Lik Paimo. 


Salam :)