Rabu, 30 Desember 2015

30 hari menjadi santri, boleh juga !

Pesantren adalah program belajar dengan seorang kiai atau tokoh agama, dimana dalam program tersebut kita diharuskan untuk bermukim disebuah pondok. Nah kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang program pesantren yang diadakan oleh sebuah yayasan ternama di daerah Bandung, tepatnya di JL. Geger Kalong Girang, Yayasan Daarut Tauhid, daerah belakang Universitas Pendidikan Indonesia... Iya, pondok pesantren milik K.H Abdullah Gymnastiar (Aa' Gym) ini mengadakan program pesantren selama 30 hari.

Program ini diberi nama Dauroh Qolbiyah, pesertanya terdiri dari akhwat dan ikhwan yang berumur 17-40 tahun, bahkan angkatan 61 kemarin ada lhoo peserta yang berumur 41 tahun tapi masih sangat bersemangat buat ikut belajar :)

Nah sebelum kita resmi jadi santri di Yayasan Daarut Tuhid atau jadi santri DQ para peserta diwajibkan untuk ikutan OSPEK, *udah kayak sekolahan aja ya* hehe tenang.... ospeknya cuman 3 hari doang kok, disitu kita dilatih buat jadi calon santri yang tangguh, gak lemah, gesit, percaya diri, dan yakin dengan Allah SWT..




Jumat, 13 Februari 2015

Bermain Air di Curug Sibedil


Namanya curug sibedil, orang bilang tiap malam jumat sering terdengar suara senapan atau bedil dari salah satu batu besar yang berada di dekat air terjun ini. Lokasi curug yang berada di Desa Sima, Kabupaten Moga, Kecamatan Pemalang selalu ramai untuk tempat berlibur warga setempat.

Minggu, 05 Oktober 2014

Coklat Berlapis

Beberapa hari kemarin berhasil dibikin mupeng sama foto-foto dari satu tempat yang namanya Brown Canyon, sebenernya sih saya ngira kalo tempat ini letaknya nun jauh di Afrika sana, soalnya gersang banget, kayak di gurun dan ada tebing dari tanah coklat gitu mirip deh sama yang di film kartun road runner show. Gak taunya ini tempat ada di Indonesia loh, di kota Atlas Semarang, tepatnya di Rawosari, Meteseh, Semarang Timur.

Brown canyon sekarang jadi empat kekinian bagi muda mudi yang hobi foto-foto ataupun jalan-jalan, padahal sebenernya Brown canyon bukan tempat wisata loh, tapi tempat tambang batu padas.
Nah, beruntunglah saya, pas sengaja ke Semarang buat ketemu sahabat kemarin eh dapet bonus diajakin jalan-jalan ke Brown Canyon.

Perjalanan pagi kami mulai dengan mengendarai motor untuk menuju Brown Canyon, butuh waktu 45 menit dari daerah kampus Udinus, pusat Kota Semarang buat nyampe ketempat ini. Untuk akses jalan sendiri, agak susah dijangkau kalo kalian belum tempatnya, masuk-masuk ke permukiman warga deh jalannya, dan gak banyak yang tau loh kalo tempat tambang batu padas ini dikenal juga sebagai Brown canyon. Yah pokoknya kalo saran dari temen saya sih pake insting aja, ngikutin jalan yang ada, soalnya kalo udah masuk daerah Rawosari bisa keliatan tebing batu padas yang tinggi menjulang dari kejauhan, jadi kira-kira aja tuh arah tebingnya ada dimana terus ikutin deh.



@mthkarima

@mthkarima

Selasa, 30 September 2014

Ga'gana Rammang Rammang

"Oh God, mau gue punya rumah disini ! Sunyi, angin sepoi, gak ada polusi, pegunungan karst.... ah indah banget..."

Berkali-kali kawan saya Asib mengucapkan kalimat tersebut dari mulutnya ketika kami sampai di rammang-rammang, sebuah destinasi wisata deretan pegunungan Kapur (karst), yang terletak di Desa Salenrang, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Berjarak sekitar 40 km arah Kota Makassar. Dapat ditempuh selama 2 jam perjalanan darat menggunakan mobil atau motor, obyek wisata ini cukup mudah dikunjungi karena letaknya yang tidak jauh dari jalan raya provinsi.

Berada di tempat yang pernah menjadi lokasi wisata salah satu acara jalan-jalan yang sering saya tonton merupakan keberuntungan bagi saya bisa sampai kesini. Dengan mengikuti kegiatan JFMI, saya bersama 10 orang kawan dari Purwokerto berniat untuk mengeksplore Makassar sebelum pulang ke tanah jawa.

Rammang-rammang ini udah ditetapkan oleh UNESCO sebagai World Heritage Site untuk karst terbesar kedua, terluas, terpanjang, dan terindah di dunia. Namun sayang, menurut mas atep kawan saya yang merupakan mahasiswa UNHAS mengatakan kalo kebanyakan wisatawan yang dateng malah dari luar kota Makassar sendiri, dan bahkan banyak juga turis mancanegara yang datang ketempat ini.

Nah, sekarang liat yuk indahnya rammang-rammang :)


memasuki Desa Salenrang kita sudah bisa melihat bebatuan kapur di kanan-kiri jalan, teriknya panas matahari gak bisa bikin kami buat sedikitpun berhenti mengagumi tempat ini.

Minggu, 31 Agustus 2014

Buku



Sebuah karya bersama kawan-kawan KKN yang superduper bersemangat sekali, dikerjain cuman 3 hari dan akhirnya bisa naik cetak, bikin seneng bukan main. 
Buku ini dibuat sebagai pengganti 'plakat' yang biasa kawan-kawan kami berikan sebagai tanda terima kasih, nah bentuk ucapan terima kasih dari kelompok kami sedikit berbeda, bikin buku ! iya, buku yang akhirnya bisa dicetak ini, berisikan tentang asal muasal Desa Gripit, serta tempat-tempat yang biasa jadi tempat kegiatan dan ngumpul warga Desa Gripit. 
Awalnya sih pingin diem-diem aja bikin ini buku sampe nanti dikasih ke perangkat Desa, but we need more information, yaudah deh curhat ke Pak Lurah dan perangkat desa lainnya, dan mereka ngasih banyak informasi yang tadinya gak kami ketahui.

Selasa, 08 Juli 2014

Jumat, 27 Juni 2014

Judul


Halo, aku adalah sebuah foto yang berhasil diabadikan. Namun sayang, sampai saat ini siempunya belum juga mendapatkan ide untuk memberikanku judul yang pas untukku. Dan kamu, iya kamu. Mau ngga memberikan sebuah judul  dari kamu melihat apa yang ada dalam foto ini..



Salam :)

Minggu, 08 Juni 2014

30

-------- achievement unlocked :) --------
 *gayajebraw* *lari-laridipadangsavanaLamboya,milihbangettempatnya,biarinaja*


30 hari selesai, kalo saya jadi anaknya ayah pidi pasti langsung dibikinin syukuran kayak si Timur yang berhasil nyelesei-in game Naruto, dan jadilah tulisan Naruto Bersyukur.he
30 hari selesai, dengan hutang tulisan yang sudah terlunasi dan tanpa mengeluarkan uang untuk denda, alhamdulillah.
30 hari selesai, iya selesai. terimakasih kepada para pembaca blog murimbaku baik disengaja maupun tidak sengaja mampir kemari dan mohon dimaafkan untuk tulisan yang masih amburadul ini.

Salam Sehat Sejahtera :))

Sabtu, 07 Juni 2014

Dibalik dahan




"Berpijarlah, tunjukan cahaya yang kau punya.
Jangan biarkan sesuatu apapun menghalanginya.
Biarkan semua tahu. Kau berhak akan itu."

Sabtu, 31 Mei 2014

Foto

"Padahal memotret hanya sesederhana apa yang ingin kau ceritakan melalui apa yang kau lihat lewat kamera. Teknis itu emang penting sih, tapi sekarang kan jamannya udah lebih maju, salah motret bisa dihapus gak kayak jaman dulu. Kalo udah gini bakalan susah buat berkembang." - IZ

Monohok bangeut kata-katanya, tapi emang sih sangat amat menyadarkan para kaum yang selalu dibikin ribet oleh diafragma, shutterspeed dan kawan-kawannya. jadi, obrolan sore yang sangat bermanfaat membuat penilaian baru mengenai memotret, bukan lagi tentang mengabadikan dan merekam, tapi sesungguhnya memotret adalah sebuah alasan, iya sesederhana itu.

Purwokerto, beberapa jam sebelum keberangkatan ke pulau Dewata.
Salam :)

Kamis, 29 Mei 2014

Ho re !

Malam yang panjang, orang-orang sangat sibuk !
Apalagi kami,
seluruh crew HORE ! sedang sangat on fire mempersiapkan terbitnya zine untuk hari Sabtu ini.
Semangat menjadi manusia yang tidak sia-sia !





Purwokerto, dirumah tepi jalan riyanto no. 94
Salam !

Senin, 26 Mei 2014

Yogyakarta di suatu pagi.


Minggu, 25 Mei 2014

Hari ini masih di Yogyakarta, dengan suasana pagi yang teduh sisa euforia menonton payung teduh semalam.
Hari ini juga harus kembali ke purwokerto, tapi sebelum pulang aku ingin bertemu seorang kawan SMA, namanya Hesty.
Kami bertemu dan mencari sarapan berdua, kemudian mencari buku di emperan toko samping Taman Pintar tapi sayang, masih banyak toko yang belum buka dan akhirnya aku meminta kepada Hesty untuk mengajaku jalan-jalan. Sesungguhnya aku ingin ke Gunung Api Purba yang katanya tempatnya yoi bangeet (coba aja googling kalo gak percaya), tapi Hesty belum pernah kesana, akhirnya dia mengajakku pergi ke Candi Ijo di daerah Sleman daerah selatannya candi Ratu Boko.

Terletak di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman. Perjalanan menuju Candi Ijo dapat dengan mudah dilakukan dengan alat transportasi seperti mobil dan motor, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat kota Yogyakarta. Banyaknya plang petunjuk jalan yang juga membuat wisatawan tidak bingung untuk sampai ke Candi Ijo, namun akses jalan yang lumayan curam 5km sebelum candi ijo membuat kita harus berhati-hati.

Untuk memasuki Candi Ijo, kita hanya diwajibkan mengisi semacam buku daftar wisatawan, karena menurut Hesty beberapa bulan yang lalu pemerintah Yogya mulai membebaskan biaya masuk ke candi-candi kecil salah satunya Candi Ijo ini. Cocok nih buat tempat pikniknya mahasiswa !

Candi Ijo ini merupakan salah satu candi tertinggi di Yogya, buktinya kita bisa melihat landasan udara Adisucipto. Pemandang disekeliling candi juga yoi banget lhoo, kita bisa ngeliat perumahan daerah Sleman dan sekitarnya, apalagi kalo kalian kesini waktu sunset behhh syahdu banget pasti !


jadi di Kompleks Candi Ijo ini ada beberapa candi.



berlatar belakang daerah Sleman dari kejauhan.


di kompleks Candi Ijo ini ada juga candi yang berupa reruntuhannya aja lho



Jalan Keluar ?



reruntuhan candi.








Ini untuk kamu yang selalu tangguh menghadapi segala cobaan hidup, seperti candi yang selalu berdiri meskipun badai dan abu kelud datang menghampiri #eaaaaa 






Terimakasih kawan Hesty :)
Purwokerto, 26 Mei 2014
Salam :)

Minggu, 25 Mei 2014

Biru


Tadi pagi disini, ngeliatin mereka. Aku langsung inget sama cover Soundcloudnya Banda Neira, langsung deh pasangan yang lagi berdiri di atas tangga keluar itu aku foto aja, sambil ngebayangin lagu ke entah berantahnya Banda Neira. Pokonya suatu hari nanti harus bisa ber-nelangsa riang secara langsung sama Banda Neira.






Purwokerto, 25 Mei 2014 
1 jam lebih banyak menit yang lalu tiba di PWT
Foto : di Candi Ijo - Yogyakarta
Terimakasih untuk kawan Hesty


Sabtu, 24 Mei 2014

5.45 AM

Hari ini.
Jogja, untuk perempuan yang sedang di pelukan dan segala yang mengagumkan.
Semoga.......

Rabu, 21 Mei 2014

Hari Selasa rasa Minggu di Pulau Nusakambangan


Mentari masih malu-malu untuk naik ke peraduan saat kami, saya dan 16 anak Refleksi bersiap untuk melakukan perjalanan pagi itu. Sebuah kegiatan Hunting Besar yang merupakan salah satu program kerja ukm saya, akhirnya terselenggarakan juga setelah sebelumnya mengalami banyak pertimbangan untuk melaksanakannya.

Jadwalnya sih jam 6 pagi kumpul di sekre dan 6.30 kami sudah dalam perjalanan menuju Cilacap, tapi ya namanya juga manusia, banyak yang harus dipersiapkan, ada yang ijin makan dulu, beli bensin dan sebagainya. Suasana kampus Fisip sudah mulai ramai, akhirnya 7.30 kami berangkat menggunakan sepeda motor. Ngeeeeeng......

Disambut oleh sepoi angin pantai dan panas terik matahari, akhirnya setelah dua jam perjalanan kami memasuki kawasan pantai pasir putih, jadi tambah gak sabar untuk menaiki perahu dan menyebrang ke Pulau Nusakambangan.

Setelah melakukan istirahat beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan menaiki perahu untuk menyebrang pulau. Dengan proses tawar menawar akhirnya kami mendapatkan harga Rp. 15.000 per orang sudah termasuk harga tiket untuk masuk pulau Nusakambangan.


Oh iya, dalam perjalanan di atas kapal saya melihat da pelangi api diatas awan yang menaungi kami, tapi berhubung salah tekhnik waktu motret jadi gak begitu keliatan deh :(



Kapal kandas - kata bapak nelayan, kapal besar itu sudah kandas jadi harus dibantu oleh kapal-kapal kecil untuk mendorongnya supaya ketepian.


Sampai di Pulau Nusakambangan, mari berjalan kaki sedikit lebih jauh lagi........hup hup hup !


Salah satu bukti sejarah peninggalan Portugis yang masih berdiri kokoh di Pantai Karangbolong.


Sayangnya tangan-tangan jahat sudah mengotori peninggalan sejarah yang seharusnya kita jaga dan rawat baik-baik ini.



 Selesai melihat-lihat beberapa ruangan di Benteng Karangbolong kami melanjutkan perjalanan untuk menuju pantai, yeayyy akhirnya mendengarkan suara ombak dan bermain pasir lagi.

Pantai Karangbolong - Nusakambangan Timur.



*******************************************

Puas sudah mengabadikan segala apa yang ada di Pulau Nusakambangan, kami kembali lagi ke Pulau Jawa (wess kek nyebrang kemana aja) untuk melanjutkan perjalanan menuju destinasi terakhir kami.

Merupakan satu obyek wisata yang letaknya tak jauh dari tempat penyebrangan perahu ke Nusakambangan, tempat ini juga merupakan bukti sejarah peninggalan Belanda pada masa penjajahan. hayooo siapa tahu nama tempatnya ? Yap. Benteng Pendem yang dalam bahasa Belanda artinya Kustbatterij op de Landtong te Cilacap, benteng ini dibangun udah lamaa banget dari tahun 1861. Untuk yang pingin tahu gimana sejarah benteng pendem buka aja web tentang benteng ini yaaa :) hee





Nah kalo ini pintu masuk ruangan klinik yang digunakan pada masa penjajahan,

kalau ini salah satu pintu benteng, jadi dulunya tuh Benteng Pendem berhadapan langsung sama lautan lepas. Bisa liat garis garis yang ada di tembok itu nggak ? itu tempat para prajurit melakukan pengamanan dengan bersiap untuk menembaki musuh.


Dan yak, saya terkejut menemukan dua binatang ini, rusa ganteng dan rusa betina yang cantik, mereka hidup dan mencari makan dengan bebasnya di dalam kawasan Benteng Pendem ini.

Beberapa kawan dari calon anggota yang sedang beraksi memotret apa yang mereka lihat.

Salah satu bangunan di kawasan Benteng Pendem





Selesai sudah perjalanan Selasa rasa Minggu kami. satu foto narsis rama-ramai gak dosa kan ya buat penutup di postingan ini.hehehe



Salam :)






Selasa, 20 Mei 2014

Jejak






........................ x ........................




 ke arah mana lagi kau akan melangkah?
mengikuti jejak orang kebanyakan ?
atau hanya berputar-putar tak tentu arah ?
hei tentukan sekarang !
jangan habiskan waktu yang kau punya !
masih banyak kertas kosong yang harus kau isi.
masih banyak memori yang harus kau penuhi.
jangan hanya terpaku, disini !
Lekas.... pergilah.









Purwokerto,  di pantai Teluk Penyu.
20 Mei 2014






Sabtu, 17 Mei 2014

Hei Walter Mitty



The Secret Life of Walter Mitty, yup sebuah film yang akan saya bahas sedikit pada postingan kali ini.
Apa pendapat kalian ketika melihat poster film di atas ? pasti kawan-kawan mengira film ini berkisah tentang seseorang yang bekerja dikantoran, atau kehidupan lelaki paruh baya.

Film yang direkomendasikan oleh kawan saya ini ternyata bercerita tentang seorang pegawai majalah LIFE yang bernama Walter Mitty, dimana awalnya dia selalu direndahkan dan dipandang sebelah mata karena Mitty selalu memiliki imajinasi yang lebih ketika dia berbincang dengan seseorang. Orang lain hanya melihat dia bengong dan tidak mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Sampai akhirnya seorang fotografer Sean O'Connell mengirimkan satu rol film yang didalamnya terdapat foto terbaik dan Sean mengharapkan agar foto itu menjadi cover intisari majalah LIFE. 

Masalah muncul ketika negative foto urutan nomor 25 tidak ada dalam rol film, Mitty yang menjabat sebagai manager aset negative foto harus bertanggung jawab menemukan foto tersebut. Dalam rol film yang diberikan oleh Sean hanya terdapat tiga foto dan sama sekali tidak berkaitan yang satu dengan yang lainnya. Mengingat Sean O'Connell adalah fotografer yang selalu melanglang buana, mitty merasa kesulitan untuk mendapatkan petunjuk akhirnya dia hanya mengandalkan tiga foto yang terdapat dalam rol film yang diberikan Sean untuk mencari tahu dimana foto itu berada.

Dengan waktu hanya dua minggu sampai majalah LIFE dicetak, akhirnya Mitty memberanikan diri untuk mencari Sean. Melakukan perjalanan ke Greendland, menaiki helikopter dengan pilot yang sedang mabuk, terjun bebas ke lautan untuk menumpang sebuah kapal pengiriman barang, menyusuri gunung dengan menggunakan skateboard, melewati daerah Afghanistan yang tak bereperintahan, sampai mendaki pegunungan Himalaya harus dilakukan oleh Mitty. Ah pokoknya film ini keren, cerita tentang film ini sampai disini aja dulu, untuk kalian yang penasaran, tonton langsung aja yaa filmnya :))





Salam :)    



Jumat, 16 Mei 2014

Seratus Lampion di langit Gunung Srandil, Cilacap.





Tepat satu hari yang lalu, tanggal 15 Mei 2014 merupakan hari raya umat Budha. Ya, perayaan hari suci yang selalu dirayakan berpusat di candi Borobudur ini pasti ramai didatangi oleh orang-orang yang akan berdoa maupun oknum-oknum yang akan mengabadikan jalannya perayaan waisak.

Melihat postingan beberapa hari yang lalu tentang lampion, beberapa kawan saya menanyakan kenapa saya tidak melanjutkan misi lagi untuk melihat lampion di Borobudur ? Bagi saya melihat lampion pada pertengahan April kemarin sudah merupakan keberhasilan dari misi saya untuk melihat lampion, meskipun jumlahnya tidak sebanyak yang saya harapkan. 

Namun, malam ini sebuah ketidak sengajaan terjadi. Ketika saya bbm mas Fikri untuk menanyakan sebuah tempat, tiba-tiba dia menginformasikan bahwa malam ini akan ada pawai 1000 obor dan penerbangan 100 lampion di Gunung Srandil, Desa Glempang Pasir, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Hemmm, saya kemudian tertarik untuk berangkat ke Cilacap, tapi sayangnya setelah saya mengajak kawan-kawan di UKM Refleksi tidak ada satupun yang mau berangkat. Beberapa menit kemudian Mas Fikri menawarkan saya untuk ikut, langsung saja saya iya-kan. 

Setelah ba'da maghrib, saya, mas Fikri dan mba Dian berangkat menuju Srandil. Tempatnya agak jauh yaitu 30 Km dari pusat kota Cilacap kearah timur laut.

Menurut informasi, kegiatan perayaan waisak yang baru diadakan tahun ini dengan menggunakan pawai obor dan penerbangan lampion. Kagiatan yang lain juga sudah mulai dilaukan sejak kemarin (14/5), seperti diadakannya kerja bakti dan doa-doa yang dipanjatkan oleh umat Budha. Untuk malam ini pawai obor yang diikuti juga oleh umat Budha dari beberapa daerah disekitar Cilacap, Banyumas, Solo bahkan ada yang datang dari Lampung. 

Pelaksanaan pawai 1000 obor dimulai dari Vihara Agung Shang Yang Jati yang terletak di Hutan Gunung Selok di Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Jarak yang ditempuh untuk sampai ke Vihara di Desa Srandil cukup jauh, yaitu sekitar 5 kilo meter. Setelah puluhan orang pembawa obor memasuki vihara Tri Ratna, kemudian langsung dilanjutkan pelepasan lampion sebagai bentuk dipanjatkannya doa-doa, selain itu diadakan pula pagelaran wayang kulit.




Para umat Budha melakukan perjalanan membawa obor dengan berjalan kaki.





Lampion siap diterbangkan.





Pada sebuah lampion mereka menitipkan harapan....





Salam :)